Tahun 2006 menjadi titik awal perjalanan saya di dunia jurnalistik. Saat itu, untuk pertama kalinya nama saya masuk media nasional di bawah naungan Jawa Pos Group sebagai reporter yang ditempatkan di daerah.
Proses masuknya tidak mudah. Tes menjadi wartawan kala itu terasa sangat berat dan serius, jauh dari kesan instan.
Saya masih ingat betul, kantor redaksi berada di Gedung Graha Pena, Kebayoran Lama Jakarta, lantai 10. Begitu keluar dari lift, tulisan Indopos langsung terlihat jelas.
Dengan sedikit gugup, saya menyampaikan maksud kedatangan kepada resepsionis karena mendapat panggilan kerja. Saya kemudian diarahkan menunggu di ruang rapat bersama beberapa pelamar lain, sekitar tujuh orang kalau tidak salah.
Sekitar setengah jam kemudian, perwakilan perusahaan masuk dan menjelaskan tahapan seleksi. Ada tes tulis, wawancara berbahasa Inggris, dan tes lapangan. Pada tes tulis, kami diminta membuat berita dari dua paragraf materi yang disediakan. Setelah itu, kami juga harus menulis berita dari bahan berbahasa Inggris. Di tahap ini, saya sempat panik karena kemampuan bahasa Inggris saya sangat terbatas.
Tahapan berikutnya adalah wawancara, yang ternyata juga menggunakan bahasa Inggris. Meski terbata-bata, saya berusaha menjawab sebisanya.
Setelah itu, saya diminta mengikuti tes lapangan. Semua proses saya jalani, lalu diminta menunggu panggilan lanjutan. Penantian itu terasa sangat lama, hampir tiga bulan, hingga akhirnya telepon dari kantor datang membawa kabar diterima bekerja.
Saya ditempatkan di Bekasi untuk mengisi halaman Bekasiraya, sebagai suplemen halaman koran Indopos, dengan penugasan di desk kriminal. Hari-hari saya diisi dengan berkeliling dari polsek ke polsek, nongkrong di polres, dan mengejar berbagai peristiwa. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi tak lama setelah saya menikah.
Saat itu saya baru empat hari menikah dan bersiap tidur ketika telepon kantor berdering sekitar pukul 22.00 malam. Ada peristiwa penembakan, korban sudah dievakuasi ke rumah sakit, dan saya diminta segera cek lokasi.
Dengan berat hati meninggalkan istri, saya tetap berangkat karena itulah tuntutan pekerjaan.
Pada masa itu, profesi wartawan terasa sangat membanggakan. Honor dan tunjangan relatif baik, bahkan bisa dibilang di atas rata-rata. Setiap selesai jam deadline, kepala rasanya tenang, tidak stres, dan merdeka.
Kini semua tinggal cerita. Beberapa tahun terakhir, koran yang dulu menjadi bagian dari sejarah hidup saya sudah tutup. Pembaca berpindah ke dunia digital. Teknologi perlahan menggerus marwah jurnalisme.
Investigasi mendalam makin jarang, digantikan perlombaan kecepatan. Siapa paling cepat, dia yang menang.
Tinggal kenangan, dan pelajaran dari sebuah profesi yang pernah begitu dibanggakan.
Selamat Hari Pers Kawan..
Deny Iskandar
wartawan Bekasi