Bercak air keruh di dinding biru Perumda Tirta Bhagasasi tampaknya bukan lagi sekadar persoalan teknis distribusi air. Di balik itu, aroma pertarungan kepentingan justru semakin terasa. Mirip air kiriman.
Nama Direktur Utama Perumda Tirta Bhagasasi, Reza Luthfi Hasan, terus menjadi sasaran kritik, serangan opini, hingga dorongan pergantian jabatan dari sejumlah pihak yang tidak nyaman dengan arah kepemimpinannya.
Yang menjadi pertanyaan publik bukan lagi soal suka atau tidak suka terhadap figur tertentu, melainkan mengapa ambisi pergantian direksi begitu dipaksakan di tengah proses yang sebenarnya baru berjalan. Apalagi, jabatan direksi BUMD bukan posisi warisan politik yang bisa diganti hanya karena ada kelompok tertentu merasa lebih layak menaruh “orangnya”.
Fakta yang sering diabaikan adalah proses pengangkatan direksi Perumda Tirta Bhagasasi tahun 2024 dilakukan melalui tahapan resmi. Mulai dari seleksi administrasi, uji kelayakan dan kepatutan (UKK), hingga wawancara oleh Kuasa Pemilik Modal (KPM). Proses itu bahkan melibatkan unsur akademisi dan mengikuti regulasi pemerintah daerah serta ketentuan Kementerian Dalam Negeri.
Artinya, jabatan Reza Luthfi bukan hasil penunjukan liar tanpa prosedur. Ada mekanisme hukum yang ditempuh. Maka ketika muncul narasi “copot sekarang, ganti orang baru”, publik tentu berhak bertanya: ini sedang berbicara soal peningkatan layanan air bersih atau sekadar perebutan pengaruh di tubuh BUMD?
Ironisnya, nama-nama yang mulai dimunculkan sebagai alternatif justru belum memiliki rekam jejak yang benar-benar terlihat dalam pembangunan layanan air bersih Kabupaten Bekasi. Minim pengalaman teknis, minim kontribusi nyata, tetapi agresif bermanuver di ruang opini publik. Situasi seperti ini membuat masyarakat sulit membedakan mana kritik konstruktif dan mana agenda politik berkedok kepedulian.
Padahal tantangan Perumda Tirta Bhagasasi saat ini tidak ringan. Persoalan pemisahan aset, perluasan jaringan, peningkatan pelanggan industri, hingga penataan internal perusahaan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Dalam sejumlah pemberitaan, Reza Luthfi juga tengah mendorong pengembangan sektor industri serta penyesuaian kebijakan internal perusahaan pasca pemisahan aset.
Tentu bukan berarti kepemimpinan direksi anti kritik. Kritik tetap penting, terlebih jika menyangkut kualitas layanan masyarakat. Air keruh, distribusi terganggu, atau pelayanan buruk wajib dievaluasi. Namun kritik yang sehat seharusnya berbasis data pelayanan, bukan sekadar serangan personal dan manuver pergantian kekuasaan.
BUMD air minum bukan panggung perebutan pengaruh politik. Yang dibutuhkan masyarakat Kabupaten Bekasi adalah air bersih yang mengalir, pelayanan yang membaik, dan perusahaan daerah yang stabil. Jika setiap pergantian kepemimpinan selalu diseret ke pusaran kepentingan kelompok, maka yang paling dirugikan tetap masyarakat sebagai pelanggan.
Penulis : Deny Iskan
Editor indoposonline