Langkahku ini begitu berat. Aku yang seharusnya sudah bisa tenang menjalankan hidup, tanpa beban, tanpa air mata, kini terasa berat.
Tekanan darah tinggi di leherku tak pernah sembuh, meski terkadang sekejap hilang. Kepalaku sesekali keram, dengan keluar bayangan hitam di pandanganku. Untuk menenangkan diri, kerap aku bersandar di pojok warung kecil yang mulai redup dimakan malam.
“Kopi racik,” pesanku kepada pemilik warung.
Hampir tiga puluh menit aku menghabiskan setengah bungkus rokok. Tanpa bicara. Hening. Hanya suara sendok beradu dengan gelas dan kendaraan lewat yang sesekali memecah sunyi.
Tak disangka, di sudut bangku panjang itu ada seorang pemuda. Tubuhnya kurus, rambutnya sedikit berantakan. Ia duduk sambil menunduk, memegang gelas kopi yang bahkan belum disentuh sejak tadi. Matanya kosong, seperti orang yang terlalu lama memendam sesuatu sendirian.
“Aku boleh duduk sini, bang?” tanyanya pelan.
Aku hanya mengangguk kecil.
Beberapa menit kami sama-sama diam. Sampai akhirnya ia menarik napas panjang. Nafas yang terdengar berat. Seperti orang yang sudah terlalu lelah hidup.
“Abang pernah gak… ngerasa hidup ini udah gak punya tempat buat pulang?” katanya lirih.
Aku menoleh pelan.
Matanya merah. Bukan merah karena marah, tapi merah orang yang terlalu sering menahan tangis.
“Aku capek, bang…”
Kalimat itu pendek. Tapi entah kenapa terasa sangat panjang malam itu.
Ia mulai bercerita. Tentang ibunya yang sakit di kampung. Tentang adiknya yang putus sekolah. Tentang dirinya yang bekerja serabutan di kota, tidur berpindah-pindah kontrakan, kadang tak makan sehari penuh asal masih bisa kirim uang.
“Aku sering bohong sama emak,” katanya sambil tersenyum pahit. “Aku bilang kerjaanku bagus… padahal aku kadang bingung besok makan apa.”
Aku terdiam.
Angin malam terasa makin dingin. Asap rokokku perlahan naik lalu hilang di udara, seperti harapan-harapan kecil yang pelan-pelan mati tanpa suara.
Pemuda itu kemudian tertawa kecil, tapi matanya basah.
“Lucu ya bang… orang miskin itu bahkan gak punya waktu buat sakit.”
Kalimat itu menghantam dadaku keras sekali.
Aku yang sejak tadi sibuk dengan rasa sakitku sendiri, mendadak merasa kecil. Ternyata di luar sana, banyak orang berjalan dengan luka yang lebih sunyi. Mereka tetap tersenyum, tetap bekerja, tetap bilang “baik-baik aja”, padahal hidup sedang menggencet leher mereka perlahan.
Warung kecil itu mendadak terasa sesak.
Aku meneguk kopi yang mulai dingin. Tanganku gemetar sedikit. Entah karena tekanan darahku, atau karena untuk pertama kalinya malam itu aku melihat diriku sendiri di mata seorang pemuda asing yang nyaris kehilangan harapan.
Dan malam semakin larut, sementara kami berdua tetap duduk di pojok warung, sama-sama menahan sesuatu yang hampir pecah menjadi air mata.
Penulis : Deni Iskan
Editor indoposonline