Connect with us

Ayah dan Sebatang Cerutu

ilustrasi / FOTO net

Catatan Denny

Ayah dan Sebatang Cerutu

Usianya sudah melewati kepala empat. Rambut yang dulu hitam pekat kini mulai dipenuhi warna putih. Bola matanya perlahan menguning, seolah mengikuti kulit tubuhnya yang semakin menua dimakan waktu. Setiap sore, ia duduk di pojok rumah sederhana yang telah puluhan tahun menjadi tempatnya berteduh dari panas dan hujan kehidupan.

Di tangannya selalu ada sebatang cerutu murah. Asapnya mengepul perlahan ke udara, lalu hilang tanpa jejak. Sama seperti sebagian mimpi yang pernah ia gantungkan tinggi saat masih muda. Sesekali dagunya mendongak ke langit. Bukan karena sedang menikmati senja, melainkan karena ada beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Ia berharap langit mau mendengar keluh kesah yang tak pernah berani ia ceritakan kepada siapa pun.

Setiap pagi ia bangun sebelum matahari muncul. Bukan karena rajin, tetapi karena rasa takut. Takut tidak memiliki cukup uang untuk makan hari itu. Takut tagihan datang lebih cepat dari rezeki. Takut putri kecilnya bertanya sesuatu yang tak mampu ia penuhi. Hidup telah mengajarinya bahwa menjadi seorang ayah berarti harus tersenyum meski dada terasa sesak.

Putrinya kini berusia sembilan tahun. Gadis kecil yang selalu menyambutnya dengan pelukan ketika pulang ke rumah. Gadis yang tak pernah menuntut apa pun. Bahkan saat teman-temannya pergi ke tempat wisata, ia hanya diam sambil memandangi foto-foto mereka dari ponsel pinjaman ibunya. Sang ayah tahu putrinya ingin berjalan-jalan, ingin merasakan liburan seperti anak-anak lain. Namun setiap kali keinginan itu muncul, ia hanya mampu berkata, “Nanti ya, Nak. Kalau Ayah ada rezeki.”

Kalimat itu telah diucapkannya berkali-kali. Begitu sering hingga terkadang ia sendiri merasa bersalah setiap mendengarnya keluar dari mulutnya. Malam hari ketika semua anggota keluarga tertidur, ia sering duduk sendirian di ruang tamu yang gelap. Matanya memandangi langit-langit rumah, sementara pikirannya dipenuhi angka-angka. Cicilan, kebutuhan sekolah, biaya listrik, dan harga sembako yang terus naik. Semua berputar tanpa henti di dalam kepalanya.

Pernah suatu malam putrinya terbangun dan menemukan ayahnya masih duduk sendirian. Gadis kecil itu menghampiri lalu memeluknya dari belakang. “Ayah jangan sedih ya. Aku nggak minta apa-apa kok,” ucapnya polos. Kalimat sederhana itu justru membuat hati pria tersebut hancur. Ia segera menundukkan wajah agar air matanya tidak terlihat. Seumur hidup, baru kali itu ia merasa begitu lemah.

Ia tidak pernah meminta menjadi kaya. Ia tidak pernah bermimpi memiliki rumah mewah atau kendaraan mahal. Semua ambisi itu perlahan hilang seiring bertambahnya usia. Yang tersisa hanyalah satu harapan sederhana yang terus ia panjatkan setiap selesai beribadah. “Ya Allah, berikan aku kesehatan. Jangan ambil aku sebelum anakku besar. Biarkan aku tetap berada di sisinya.”

Baginya, sehat adalah harta yang paling berharga. Sebab selama tubuhnya masih kuat, ia masih bisa bekerja. Selama tangannya masih mampu bergerak, ia masih bisa mencari nafkah. Dan selama napasnya masih berhembus, ia masih bisa melihat senyum putri yang menjadi alasan terbesar dirinya bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Malam itu, pria berambut memutih tersebut kembali duduk di pojok rumah dengan cerutu yang hampir habis. Ia memandang langit yang gelap tanpa bintang. Tak ada doa meminta kekayaan, tak ada permintaan untuk hidup mewah. Hanya satu kalimat yang berulang kali ia bisikkan dengan suara lirih, “Tuhan, jangan jauhkan aku dari putriku. Biarkan aku tetap sehat dan menemani masa depannya.” Di balik wajah yang tampak tegar itu, tersimpan hati seorang ayah yang setiap hari berjuang melawan lelah, demi seseorang yang paling ia cintai di dunia.

Penulis Deny Iskan

Wartawan Bekasi

Continue Reading
Baca juga

Kabarbekasi.ID menyajikan berita aktual dan akurat seputar Bekasi. Dilaporkan langsung oleh para reporter kami di lapangan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di rubrik Catatan Denny

To Top