Connect with us

Wayahnya Orang Bekasi Bersikap, Jangan Mau Jadi Penonton!

Wajah Kota Bekasi / dok kabarbekasi.id

Catatan Denny

Wayahnya Orang Bekasi Bersikap, Jangan Mau Jadi Penonton!

Dari empat nama calon Sekretaris Daerah Kota Bekasi yang diumumkan, tidak satu pun putra asli daerah.

Apakah Bekasi kekurangan SDM?

Tidak.

Apakah tidak ada yang memenuhi syarat?

Belum tentu.

Apakah tidak ada yang cakap?

Juga bukan itu persoalannya.

Lalu persoalannya apa?

Pertanyaan itu yang seharusnya dijawab.

Sebab ini bukan pertama kalinya Kota Bekasi berganti kepala daerah. Tetapi baru pada periode ini, putra Bekasi seperti tidak mendapatkan tempat di panggung kebijakan.

Terakhir ada Junaedi. Putra asli Bekasi yang masa jabatannya berakhir Oktober 2026.

Padahal nama putra daerah bukan cuma Junaedi. Ada Kusnanto Saidi, Nadih, Nesan dan masih banyak lainnya yang masih aktif. Mereka tumbuh, bekerja dan memahami Bekasi dari dekat.

Mereka tahu bagaimana Bekasi dulu.

Bukan Bekasi yang hanya dilihat dari gedung tinggi, jalan raya dan kawasan industri.

Mereka tahu kampungnya.

Tahu encang-encingnya.

Tahu sejarahnya.

Bahkan tahu bagaimana anak Bekasi dulu disunat di tempat almarhum Haji Ilyas Cikunir.

Sebelum disunat, dimandikan di sumur dengan air dingin. Tidak ada infus. Tidak ada alat modern. Pisau menjadi senjatanya.

Cerita kecil?

Bagi orang luar mungkin iya.

Bagi orang Bekasi, itu bagian dari ingatan.

Dan justru ingatan semacam itulah yang membuat seorang putra daerah punya rasa memiliki terhadap kampungnya.

Menjadi pejabat bukan berarti harus orang Bekasi.

Tentu tidak.

Tetapi kalau semua ruang strategis perlahan diisi orang dari luar, lalu kapan anak-anak Bekasi mendapat kesempatan menentukan arah rumahnya sendiri?

Ini bukan soal sentimen daerah.

Ini soal keseimbangan.

Bekasi membutuhkan orang yang mengerti bagaimana kampung ini tumbuh. Mengerti luka lamanya. Mengerti kebiasaan warganya. Dan tahu ke mana pembangunan seharusnya diarahkan.

Maju mundurnya kampung ini akhirnya kembali kepada encang-encing kita.

Kalau benar putra Bekasi mulai kehilangan ruang dalam kebijakan, mungkin sudah waktunya orang Bekasi kembali duduk bersama.

Bukan untuk melawan siapa-siapa.

Tapi untuk memastikan satu hal:

Jangan sampai di tanah sendiri, orang Bekasi hanya menjadi penonton.

 

Penulis : Deny Iskan

Wartawan Bekasi

Kabarbekasi.ID menyajikan berita aktual dan akurat seputar Bekasi. Dilaporkan langsung oleh para reporter kami di lapangan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di rubrik Catatan Denny

To Top