Connect with us

Banjir di Bekasi: Masalah yang Belum Teratasi

warga di Kota Bekasi gunakan perahu karet saat rumahnya terendam banjir / kabarbekasi.id

Catatan Denny

Banjir di Bekasi: Masalah yang Belum Teratasi

Banjir kembali melanda Bekasi. Warga panik, jalan tergenang, rumah terendam. Tapi ini bukan cuma soal hujan deras. Ada masalah lama yang belum terselesaikan sehingga banjir terus menghantui kota ini.

Beberapa wilayah paling terdampak antara lain Jatiasih, khususnya dekat sungai Cikeas dan kanal, Bekasi Barat di kawasan padat pemukiman dekat Kali Bekasi, serta Rawalumbu dan Mustikajaya, yang memiliki drainase tersumbat dan topografi rendah.

Masalah banjir di Bekasi bukan hal baru. Dari beberapa tahun terakhir, faktor penyebab utama muncul berulang, asdalah urbanisasi. Pemicunya, mengurangi lahan resapan, drainase tersumbat sampah dan sediment, sungai serta kanal yang tidak dinormalisasi, dan kultur tanah alluvial yang cepat jenuh air.

Kombinasi faktor ini membuat air hujan sulit terserap dan meluap ke permukiman. Dampak yang dirasakan warga sangat nyata. Aktivitas sehari-hari terganggu, kendaraan macet, dan rumah warga terendam.

Pedagang pasar tradisional mengalami kerugian karena dagangan rusak. Anak-anak dan lansia lebih rawan kesehatan karena kontak dengan air kotor. Banyak warga harus mengungsi sementara, sementara petugas BPBD sibuk mengevakuasi dan menanggulangi dampak darurat.

Data terbaru menunjukkan, pada musim hujan 2025, lebih dari 3.500 rumah di Bekasi terdampak banjir, dengan ketinggian air rata-rata 50–80 cm. Selain itu, sekitar 12.000 warga harus mengungsi ke posko darurat, sementara kerugian materi diperkirakan mencapai miliaran rupiah akibat rusaknya kendaraan, kendaraan, dan fasilitas usaha kecil.

Kasus spesifik mencatat, wilayah Rawalumbu sempat mengalami genangan hingga 1 meter pada satu titik karena drainase tersumbat dan luapan Kali Bekasi.

Di Mustikajaya, warga melaporkan banjir terjadi dalam waktu kurang dari satu jam setelah hujan lebat, menegaskan bahwa kapasitas sungai dan saluran air sudah tidak memadai lagi.

Jika dibandingkan dengan daerah lain, perbedaan terlihat jelas. Bogor, misalnya, memiliki kanal lebih luas dan banyak lahan resapan serta dataran tinggi sehingga banjir lebih terkendali.

Sedangkan, Tangerang, yang urban padat dan drainase buruk, menghadapi masalah mirip Bekasi. Depok, dengan topografi lereng, mengalami banjir lebih lokal dan tidak meluas. Dari perbandingan ini, Bekasi unik karena kombinasi tanah cepat jenuh, urbanisasi cepat, dan drainase tersumbat.

Banjir terjadi karena air hujan yang tidak terserap tanah, mengalir ke saluran yang penuh, sungai meluap, dan akhirnya permukiman tergenang. Kultur tanah alluvial, betonisasi kota, dan drainase tersumbat membuat banjir selalu muncul setiap hujan deras.

Solusi yang bisa diterapkan mencakup normalisasi sungai dan kanal secara rutin. Termasuk, perbaikan drainase utama dan sekunder, pembuatan kawasan resapan air di setiap proyek pembangunan, penanaman pohon dan taman kota untuk meningkatkan infiltrasi air.

Tambah lagi, edukasi warga agar tidak membuang sampah sembarangan, serta penerapan sistem peringatan dini melalui aplikasi dan sirine agar evakuasi bisa cepat dilakukan. Banjir Bekasi bukan hanya soal hujan. Ini soal manajemen kota, kultur tanah, dan kesadaran masyarakat. Jika semua pihak sadar dan bertindak, banjir bisa diminimalisir.

 

Oleh : Deny Iskandar

Editor lead Indoposonline

Kabarbekasi.ID menyajikan berita aktual dan akurat seputar Bekasi. Dilaporkan langsung oleh para reporter kami di lapangan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di rubrik Catatan Denny

To Top